Di Madura, Penyakit Kusta Dianggap Kutukan

Reporter: Tempo.co
Editor: Widiarsi Agustina

Di Madura, Penyakit Kusta Dianggap Kutukan

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi berbincang dengan pasien penderita kusta saat di pusat rehabilitasi rumah sakit Sintanala, Tangerang, Banten, Selasa (13/2). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO , SAMPANG:- Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang kesulitan menekan jumlah penderita penyakit kusta. Kondisi itu disebabkan adanya pengucilan para penderita oleh masyarakat. “Disini, masih ada anggapan penyakit kusta itu kutukan,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sampang, Kustono, Selasa, 25 Februari 2014.

Menurut dia, pengucilan tidak hanya dilakukan oleh tetangga atau masyarakat umum, tapi juga dilakukan oleh keluarga dan orang terdekat para penderita. Pengucilian tersebut, kata Kustono, yang membuat para penderita kusta enggan berobat ke puskesmas dan memilih merahasiakan penyakitnya agar tidak dikucilkan. “Mereka berobat seadanya, yang penting tidak dikucilkan,” ujarnya.

Padahal secara medis, terang Kustono, kusta bukanlah penyakit akibat kutukan. Ilmu kedokteran menggolongkan kusta sebagai infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas dan lesi pada kulit. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. “Kalau terlambat diobati bisa menyebabkan cacat fisik,” katanya lagi.

Kustono meminta masyarakat tidak lagi mengucilkan penderita kusta karena kusta bisa disembuhkan dan obat-obatannya disediakan gratis di setiap puskesmas. Bahkan sejak 2012 lalu, Dinkes Sampang telah bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat dari Belanda yang memberikan obat Multi Drug Therapy (MDT) untuk menyembuhkan penyakit kusta.

Data Dinas Kesehatan Sampang menyebutkan tahun 2013 jumlah penderita kusta di Sampang mencapai 394 orang. Paling banyak ditemukan di Kecamatan Karangpenang dan Kedungdung. Jumlah ini, kata Kustono, menempatkan Sampang sebagai daerah dengan penderita kusta tertinggi di Jawa Timur. Meski secara statistik, penderita kusta tersebut jauh menurun dibanding tahun 2012 yang mencapai 514 penderita.

“Kita target pada 2020, Sampang bebas kusta,” pungkasnya. MUSTHOFA BISRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *